Gue punya temen. Sebut aja namanya Dinda (24 tahun).
Dua tahun lalu, feed Instagram Dinda isinya OOTD dengan baju baru tiap minggu. Review skincare yang baru dibeli. Unboxing gadget terbaru. Pokoknya konten konsumerisme kelas berat.
Sekarang? Feed-nya beda total.
Foto sabun mandi yang udah dipakai sampai setipis kertas, dengan caption: “3 bulan pakai, masih bisa dipencet-pencet dikit. Target: sampe benar-benar habis!”
Foto baju kesayangan yang udah 5 tahun, ada tambalan di siku, caption: “First love. Udah bolong? Tambal aja. Masih bagus kok.”
Video isi kulkas: cuma sayuran sisa, telur, dan sambal. Caption: “Isi kulkas minggu ini. Nggak belanja dulu, habisin dulu yang ada.”
Gue awalnya mikir, “Dinda kenapa? Bangkrut?”
Tapi pas gue chat, dia jawab: “Vin, ini lagi tren. Namanya underconsumption core. Pamer hemat, pamer irit, pamer nggak beli apa-apa. Dan follower gue malah naik!”
Selamat datang di 2026. Tahun di mana [Keyword Utama: Tren “Underconsumption Core” Makin Tren] dan pamer kemiskinan jadi estetika baru.
Apa Itu Underconsumption Core?
Underconsumption core adalah tren media sosial di mana orang-orang memamerkan gaya hidup hemat, minimalis, dan anti-konsumerisme. Mereka bangga punya barang lama, bangga nggak beli baju baru, bangga make something sampai habis.
Ini kebalikan total dari tren sebelumnya yang pamer beli barang baru, haul shopping, dan unboxing.
Di TikTok, hashtag #underconsumption udah dilihat jutaan kali. Kontennya macam-macam: orang pamer sepatu udah 10 tahun masih dipakai, sabun mandi dipotong biar habis, skincare dipakai sampai nggak bisa dikeluarin lagi, bahkan pamer belanja bulanan cuma 200 ribu.
Tren ini muncul sebagai reaksi terhadap budaya konsumerisme berlebihan dan juga tekanan ekonomi yang makin berat. Anak muda mulai sadar: utang nggak seksi, pamer barang baru itu… boomer.
Data fiktif dari Trend Forecast 2026 nyebutin: 73% Gen Z mengaku lebih tertarik pada konten “hemat” daripada konten “haul”. Dan 58% dari mereka bilang, lihat konten underconsumption bikin mereka lebih sadar belanja.
Kok Bisa Tren?
Ada beberapa alasan kenapa underconsumption core tiba-tiba ngehits:
Pertama: Capek sama budaya flexing.
Selama bertahun-tahun, media sosial mempromosikan gaya hidup pamer: beli ini, beli itu, pamer barang baru. Tapi setelah pandemi, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi, orang mulai muak. Flexing terasa… nggak relevan. Apalagi buat Gen Z yang banyak nganggur atau underemployed.
Kedua: Tekanan ekonomi nyata.
Data BPS nyebutin angka pengangguran terbuka lulusan SMK dan SMA masih tinggi. Banyak anak muda kerja serabutan dengan pendapatan pas-pasan. Pamer barang baru? Mau pamer apa kalau beli aja susah.
Ketiga: Kesadaran lingkungan.
Generasi sekarang lebih peduli sama isu iklim dan sampah. Fast fashion, sampah plastik, overproduksi—semua mulai dipertanyakan. Underconsumption core jadi bentuk protes halus terhadap industri yang minta kita beli terus.
Keempat: Ini “estetik”.
Iya, ironis. Pamer hemat pun bisa jadi estetik. Foto sabun tipis dengan lighting aesthetic, baju tambal dengan pose artistik—semua bisa di-Instagram-kan. Jadi, meskipun kontennya “saya miskin”, penyajiannya tetap kece.
3 Cerita: Mereka yang Jadi “Selebriti Hemat”
1. Dinda (24 tahun): Dari Haul ke Underconsumption
Dinda yang gue ceritain di atas dulunya adalah “ratu haul”. Setiap bulan pasti belanja baju baru, skincare baru, aksesoris baru. Tapi di awal 2025, dia mulai stres. Tagihan kartu kredit menumpuk. Isi lemari penuh, tapi bingung mau pakai yang mana.
“Gue sadar, gue beli barang bukan karena butuh, tapi karena pengen. Itu toxic banget.”
Dinda mulai detox. Berhenti belanja 3 bulan. Dan dia dokumentasiin prosesnya di TikTok. Awalnya iseng, tapi videonya viral. Orang-orang suka lihat perjuangannya nggak beli baju baru, make up habis sampai hancur, dan masak dari sisa stok kulkas.
Sekarang Dinda punya 200 ribu follower. Brand-brand tertentu bahkan nawarin endorse—bukan buat promosi produk baru, tapi buat konten “tips hemat” atau “review jangka panjang”.
“Gue nggak nyangka. Dulu gue endorse skincare baru tiap bulan, sekarang gue endorse sabun colek yang irit dipakai. Dunia terbalik, Vin.”
2. Raka (27 tahun): Baju Bolong Jadi Brand Ambassador
Raka kerja sebagai desainer grafis. Penghasilannya pas-pasan. Tapi dia punya satu jaket kesayangan: jaket jeans merek lokal yang udah 7 tahun dipakai. Sudah bolong di siku, pudar warnanya, tambalan seadanya.
Suatu hari, dia posting foto pake jaket itu di Instagram. Caption: “7 tahun. Belum mati gaya. Nggak perlu beli baru kalau yang lama masih setia.”
Postingannya direpost oleh akun besar. Jadi viral. Banyak yang komen “kereeen”, “inspiring”, “gue jadi pengen pake baju lama lagi”.
Yang bikin gila? Merek jaket itu sendiri akhirnya ngontak Raka. Mereka nawarin endorse. Bukan buat promosi jaket baru, tapi buat campaign “Love Your Old Jacket”.
“Saya diajak foto campaign dengan jaket bolong ini. Dibayar. Iya, dibayar buat pamer baju bolong. 2026 emang gila.”
3. Tari (25 tahun): Sabun Sisa yang Jadi Konten Viral
Tari punya satu konten yang bikin dia viral: dia pamer sabun mandi batangan yang udah tinggal setipis kartu. Dia potong kecil, tempelin ke sabun baru biar habis. Videonya disukai 2 juta orang.
“Gue cuma iseng. Sabun itu emang tinggal dikit, gue sayang buang. Eh, pas diupload, banyak yang komen ‘sama banget’, ‘aku juga gitu’, ‘akhirnya ada yang ngertiin’.”
Tari sadar, orang-orang ternyata kangen konten yang relate. Bukan kontin yang unrealistic.
“Sekarang gue rutin bikin konten underconsumption. Tips hemat, make up habis, belanja bulanan budget pas-pasan. Follower naik, dan kadang ada endorse dari brand lokal yang support gaya hidup sederhana. Hidup lebih tenang, dompet lebih aman.”
Tapi… Ini Tren atau Kesadaran Sungguhan?
Ngomongin [Keyword Utama: Tren “Underconsumption Core” Makin Tren] ini, gue mikir: jangan-jangan ini cuma gaya-gayaan doang?
Common Mistakes Pelaku Underconsumption Core:
1. Jadi Sok Suci
Ada yang pamer hemat, tapi di belakang layar tetap boros. Underconsumption di depan kamera, konsumerisme di kehidupan nyata. Ini namanya hipokrit. Followers bisa tebak kok.
2. Lupa Konteks
Pamer hemat itu keren kalau lo memang lagi berhemat karena keadaan. Tapi kalau lo orang mampu, lalu pamer hemat kayak orang susah, bisa dibilang tone-deaf. “Pamer kemiskinan” bisa jadi ofensif buat yang benar-benar miskin.
3. Beli Barang Demi Konten “Hemat”
Ironis, tapi ada yang beli produk murah cuma buat konten “hemat”. Padahal belinya nggak butuh. Ini namanya underconsumption palsu.
4. Lupa Prinsip, Cuma Ikut Tren
Tren underconsumption core bisa hilang tahun depan. Kalau lo ikut cuma karena tren, nanti pas trennya bergeser, lo balik boros lagi. Sayang.
5. Jadi Stres Mikirin Kontin
Hemat itu natural. Tapi kalau lo stres mikirin “konten hemat”, malah kontraproduktif. Santai aja. Hidup bukan cuma konten.
Data (Fiktif) yang Bikin Mikir
Youth Lifestyle Survey 2026 (fiktif) punya temuan:
- 68% Gen Z mengaku lebih suka lihat konten “hemat” daripada konten “haul”.
- 47% dari mereka bilang, konten underconsumption bikin mereka lebih sadar belanja.
- 32% mengaku pernah beli barang karena konten “hemat” (ironis, tapi nyata).
- 23% bilang mereka merasa lebih tenang setelah berhenti ngejar tren.
- 59% setuju bahwa underconsumption core bisa jadi tren sementara, tapi kesadaran finansial harus permanen.
Artinya? Tren ini punya potensi positif, tapi harus dilandasi kesadaran sungguhan, bukan sekadar ikut-ikutan.
Tips Praktis: Jadi Hemat Tanpa Pura-pura Miskin
Buat lo yang pengen ikut tren ini dengan benar, nih panduannya:
1. Mulai dari Audit Barang
Cek lemari, laci, dapur. Apa yang udah lama nggak dipakai? Apa yang masih bisa dipakai? Mulai pakai lagi, atau jual/donasi kalau memang nggak terpakai.
2. Terapkan “One In, One Out”
Kalau beli barang baru, satu barang lama harus keluar (jual/donasi). Ini bikin lo berpikir ulang sebelum beli.
3. Habiskan Sebelum Beli Baru
Sabun mandi, sampo, skincare—pakai sampai beneran habis. Jangan beli baru kalau yang lama masih ada. Ini konten underconsumption paling dasar.
4. Perbaiki, Jangan Ganti
Baju bolong? Jahit. Sepatu rusak? Tambal. Gadget lemot? Reset ulang. Perbaiki dulu sebelum memutuskan ganti.
5. Bikin Konten yang Jujur
Kalau mau bikin konten underconsumption, jujur aja. Ceritain perjuangan lo hemat, bukan pamer “lihat gue miskin”. Orang akan lebih relate sama cerita perjuangan daripada penderitaan.
6. Ingat: Hemat Bukan Pelit
Hemat itu bijak. Pelit itu nggak mau berbagi. Bedakan. Lo bisa hemat buat diri sendiri, tapi tetap dermawan ke orang lain.
7. Fokus ke Tujuan Akhir
Underconsumption bukan buat jadi miskin, tapi buat punya kontrol atas uang lo. Tujuan akhirnya: punya tabungan, punya dana darurat, punya kebebasan finansial.