Pernah ngerasa capek banget abis nge-swipe berjam-jam tapi ujung-ujungnya cuma dapet obrolan “hi” dan “how are you” doang? Gue yakin banyak dari lo yang ngalamin. Fenomena ini lagi ramai dibicarakan, terutama di kalangan Gen Z. Di satu sisi, aplikasi kencan makin canggih dengan kecerdasan buatan yang bisa nulis profil, saranin kalimat pembuka, bahkan jadi “asisten pribadi” buat nyari jodoh. Tapi di sisi lain, justru makin banyak anak muda yang burn out dan memilih mundur.
Generasi yang tumbuh bareng teknologi ini sekarang sedang mengalami paradoks. Makin pintar AI membantu, makin besar keinginan mereka buat koneksi yang terasa benar-benar manusiawi. Bukan sekedar cocok di atas kertas, tapi yang ada getaran, energi, dan rasa nyaman secara langsung.
80 Persen Gen Z Mengaku Burn Out: Cuma Angka atau Gejala?
Angka-angka terbaru ngomongin hal yang sama. Banyak banget anak muda yang udah muak dengan dating app. Forbes Health survei 5.000 orang Amerika dan nemuin bahwa 79% Gen Z dan 80% milenial ngerasa kelelahan pake aplikasi kencan . Penyebabnya? Mulai dari hantu ghosting, obrolan yang itu-itu aja, sampai rasa hubungan yang hampa .
Ini bukan cuma soal perasaan. Ada data konkret yang nunjukin penurunan pengguna. Di Inggris, Tinder kehilangan 594.000 pengguna, Hinge 131.000, dan Bumble 368.000 di tahun 2024 . Pendapatan Bumble tahunan juga turun dari 1,07 miliar dolar AS di 2024 jadi 966 juta dolar AS di 2025 . Match Group, yang punya Tinder dan Hinge, juga ngalamin penurunan pelanggan . Tanda-tanda krisis ini serius, bahkan perusahaan-perusahaan raksasa mulai panik.
“Aplikasi kencan itu didesain untuk gagal. Karena kalo lo nemu orang yang lo suka langsung, lo bakal berhenti pake produk mereka,” kata Treena Orchard, profesor di Western University yang nulis buku tentang dating app .
Studi Kasus 1: Tara dan Siklus Bosan yang Berulang
Tara Menon, seorang desainer grafis 25 tahun di Mumbai, udah bener-bener kapok. Dia udah berkali-kali ketemu cowok di aplikasi, tapi semuanya berakhir sama. “Dating apps tuh sekarang lebih kayak pelarian buat kesepian, bukan cari hubungan beneran. Kita cuma butuh ‘obat’ cepat,” katanya . Dia pernah ketemu cowok yang keliatan sempurna di chat. Tapi pas ketemu langsung, si cowok malah ngomong kalau cowok boleh tidur sama siapa aja, tapi cewek tidur sama banyak orang itu “tidak berkarakter” . Keesokan harinya, si cowok minta “imbalan” karena udah bayarin makan dan nganter pulang. “Rasanya transaksional banget,” kata Tara . Sekarang dia milih berhenti total dari aplikasi.
AI Ada di Mana-Mana, Tapi Bukan Jalan Keluar
Di tengah kepanikan ini, aplikasi kencan berlomba-lomba pake AI buat bikin pengalaman lebih “manusiawi” atau setidaknya lebih efektif.
Bumble memperkenalkan “Bee”, asisten AI yang belajar nilai, tujuan hubungan, dan gaya komunikasi lo lewat obrolan pribadi. Bee bakal ngasih rekomendasi pasangan dan bahkan saran buat kencan . Mereka bahkan berencana ngilangin fitur swipe di beberapa pasar .
Tinder juga nggak mau kalah. Mereka punya AI yang bisa scan galeri foto lo buat cari pola minat, gaya hidup, dan kepribadian, terus ngasih rekomendasi harian . Ada juga fitur “mode” buat nyari jodoh bedasar hobi kayak musik atau astrologi . Mereka juga mulai ngadain event di dunia nyata buat ngejar permintaan anak muda yang pengen ketemu langsung .
Yeet, aplikasi baru yang gen Z banget, bahkan nyelipin “Yeeta” si agen AI ke dalam setiap chat . Yeeta bisa ngasih saran topik obrolan, ngingetin lo biar nggak jawab “hey” doang, dan ikut nimbrung kalo obrolan mulai mati . Tujuannya sih biar nggak ada lagi “chat mampus di ‘Hi'” . Tapi, pertanyaannya: seberapa manusiawi sih dibantu robot buat PDKT?
Ditto, aplikasi yang lagi hits di kalangan mahasiswa, punya pendekatan beda. Mereka udah punya 150.000 pendaftar dan nggak pake swipe sama sekali . Lo daftar lewat iMessage, ngobrol sama AI buat tahu “vibe” lo, terus tiap Rabu jam 7 malam lo dapet satu rekomendasi pasangan plus waktu dan tempat kencan. “Lo tinggal dateng,” kata pendirinya . Pendekatan ini menarik karena mereka gak cari hobi yang sama, tapi pola pikir di balik hobi itu. Misalnya, cowok suka panjat tebing dan cewek suka skateboard, mereka dua-duanya petualang dan individualis, jadi cocok . Hasilnya? 20% dari yang di-match beneran jadi kencan. Ini lumayan besar dibandingin aplikasi biasa.
Dari Swipe ke Slow Dating dan IRL Events
Di luar aplikasi, ada gerakan yang lebih organik: Gen Z mulai cari koneksi di dunia nyata. Istilah “chalant dating” lagi naik daun di Prancis . Ini lawannya “nonchalant dating” yang dingin dan nggak peduli. Chalant dating artinya show interest, care, dan jujur soal perasaan dari awal. Menurut laporan Hinge, 84% pengguna Gen Z nyari cara baru buat bangun kedekatan emosional .
Di London, ada acara kencan “Chicken Rush” yang laris manis. Peserta dibagi tim, harus cari orang naik kostum ayam di pub. Ini konyol, tapi justru itulah gunanya. “Setelah balapan, semua orang ngobrol sama semua orang,” kata pendirinya . Acara ini udah punya 3.000 orang di daftar tunggu . Rosalind, salah satu peserta, bilang, “Aplikasi udah jadi budaya yang suka nolak orang, apalagi karena gampang banget di app” .
“Media sosial bikin orang makin kaku di dunia nyata. Lo bisa jadi satu hal di balik layar, tapi beda banget pas ngobrol langsung,” kata Sarah Lauren Semkowski, mantan pengguna dating app yang jadi influencer .
Studi Kasus 3: Pindah ke Instagram dan “Sliding Into DMs”
Fenomena menarik lain: anak muda pindah ke media sosial kayak Instagram buat cari jodoh. Di kota-kota besar, “sliding into DMs” jadi lebih umum daripada pake dating app . Survei Dating.com nemuin 47% responden bilang hubungan mereka dimulai karena seseorang ngirim pesan pribadi di medsos . Kenapa? Karena di Instagram, lo liat orang “utuh” dengan foto, cerita, dan humor mereka, bukan profil yang didesain khusus buat menarik perhatian. Lo bisa ngobrol dengan natural, misalnya ngebales story, daripada ngirim “hi” ke orang asing di aplikasi .
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Dari semua trend ini, ada beberapa jebakan yang sering terjadi:
- Nempel di Aplikasi Tanpa Tujuan: Terus nge-swipe padahal udah capek. Ini cuma bikin mental lo makin lelah dan nggak nambah apa-apa.
- Berharap Terlalu Banyak sama AI: AI bisa bantu saran, tapi dia nggak bisa gantiin rasa “klik” yang cuma kerasa pas ketemu langsung. “AI nggak bisa bikin pengalaman manusia jadi lebih manusiawi,” kata Treena Orchard .
- Lupa Cara Flirting di Dunia Nyata: Ini bahaya banget. Banyak anak muda jadi canggung pas ketemu orang baru karena kebiasaan ngobrol lewat layar .
- Gak Punya “Intent”: Banyak yang kencan online tanpa tujuan jelas. Orang jadi bingung, hubungan jadi ambigu, dan ujungnya sakit hati.
Tips Praktis: Balikin Koneksi Nyata
Buat lo yang mulai capek, ini saran dari gue:
- Coba “Slow Dating”: Ambil waktu buat kenalan. Jangan buru-buru. Ikut event IRL, ikut komunitas, atau coba dating app yang nge-push lo buat ketemu kayak Ditto .
- Berani “Chalant”: Berhenti main “dingin-dinginan” atau “bales tiga hari kemudian”. 84% Gen Z nyari kejujuran emosional . Nunjukin lo peduli itu bukan kelemahan, itu keren.
- Cari Koneksi Lewat Hobi: Ikut kelas salsa, komunitas lari, atau workshop. Ini cara lebih alami buat kenalan tanpa beban harus “jual diri” di profil.
- Pakai Social Media dengan Cerdas: Bukan cuma buat stalking. Ngebales story orang yang lo suka itu awal percakapan yang lebih natural daripada swipe .
- Berani Tinggalkan Aplikasi: Kalo lo udah ngerasa burn out, ambil jeda. Gak ada yang salah sama itu. Justru itu tandanya lo sadar sama kesehatan mental lo.
Kesimpulan: Paradoks AI dan Kerinduan akan Manusia
Jadi, intinya, Gen Z lagi dalam masa transisi. Mereka capek dengan swipe yang nggak jelas, obrolan yang gak bermakna, dan aplikasi yang didesain buat bikin mereka kecanduan . AI yang ditawarkan sebagai solusi memang bisa bantu, tapi di sisi lain, makin ngingetin mereka betapa “buatan” semua interaksi itu. Semakin canggih robotnya, semakin besar kerinduan akan sentuhan manusia yang tulus, yang nggak bisa diganti sama algoritma .
Dari aplikasi yang nge-push kencan offline kayak Ditto , sampe tren IRL events yang lagi naik daun , semuanya nunjukin satu hal: Gen Z pengen yang nyata. Mereka pengen merasakan energi orang di depan mata, denger suaranya, dan lihat gimana mereka merespon. Karena seperti kata Shannon Tebb, matchmaker dari Toronto, “Lo harus ketemu orang, rasain energinya, denger suaranya. Itu gak terjadi di balik layar” .
Nah, sekarang gimana menurut lo? Apakah lo juga udah mulai bosan nge-swipe dan milih cari koneksi nyata? Atau lo punya pengalaman unik dengan AI di dating app? Share di kolom komentar ya!