Saya Kencan Buta dengan Mantan Pacar Mantan Saya: 3 Aplikasi Kencan yang Justru Menyatukan Kami (Bukan Memisahkan)

Saya Kencan Buta dengan Mantan Pacar Mantan Saya: 3 Aplikasi Kencan yang Justru Menyatukan Kami (Bukan Memisahkan)

Jumat Malam, Saya Swipe Kanan Tanpa Tahu Bahwa Dunia Sedang Berkonspirasi

Jam 10 malam. Gue rebahan. Hape di tangan. Aplikasi dating yang ke-3 gue buka malam itu—karena dua sebelumnya sepi amat.

Tinder: sepi. Bumble: sepi.

Hinge: ada notifikasi. Satu like.

Gue buka. Foto cowok. Kacamata. Senyum tipis. Suka baca buku katanya. Gue swipe kanan. Match.

“Ah, biasa aja,” pikir gue. Cuma satu match di Jumat malam. Lumayan lah buat ngisi waktu.

Kami ngobrol. Santai. Tentang hujan di luar. Tentang kopi susu kesukaan. Tentang kerjaan. Gue udah mulai bosan—soalnya ini pola ngobrol yang sama dengan 20 match sebelumnya yang ujungnya ghosting.

Tapi ada yang aneh. Cara dia nulis. Pilihan katanya. Rasanya familiar.

Gue cek profilnya lagi. “29. Graphic designer. Suka lari pagi. Mantan anggota band indie.”

Mantan anggota band indie.

Gue berhenti scrolling.

Dulu, sekitar 4 tahun lalu, gue punya mantan. Sebut saja Raka. Raka juga anggota band indie. Raka juga suka lari pagi. Raka juga pake kacamata.

Tapi ini bukan Raka. Namanya beda. Mukanya beda.

Gue lanjut ngobrol.

Dia bilang, “Dulu saya sempat main di band yang cukup terkenal di kafe-kafe Bandung.”

Gue tanya, “Kenal Raka nggak?”

Diam. 3 menit. Lalu dia balas: “Raka? Raka yang gitaris? Dia mantan saya.”

MANTAN. SAYA.

Gue jatuhkan hape. Jantung berdebar. Bukan karena suka. Tapi karena absurditas situasi: gue baru aja match dengan mantannya mantan gue.

Gue kira ini kebetulan paling gila. Tapi ternyata belum selesai.

Seminggu kemudian, gue buka Tinder lagi (karena bosan, iya). Match lagi dengan cowok yang sama. Nggak sengaja. Di Bumble juga match lagi.

Tiga aplikasi berbeda. Orang yang sama. Mantan dari mantan yang sama.

Akhirnya gue chat dia: “Kita harus ketemu. Bukan buat kencan. Tapi buat ngejawabin teka-teki ini.”

Dia setuju.


Kopi, Kebingungan, dan Kesadaran: Kami Hanya Terpisah Satu Simpul

Kami janjian di kafe. Gue dateng lebih awal. Deg-degan. Bukan karena gugup kencan. Tapi karena gue takut suasana bakal canggung banget.

Dia dateng. Lebih ganteng dari foto. Gue kesal sendiri.

“Jadi,” gue buka obrolan, “kita nggak akan lanjutin ini sebagai kencan, kan? Soalnya ini aneh.”

Dia tertawa. “Iya. Ini kayak reunion keluarga yang nggak diundang.”

Kami cerita. Ternyata:

  • Gue pacaran dengan Raka tahun 2019-2020 (singkat, berantakan, Raka selingkuh).
  • Dia pacaran dengan Raka tahun 2021-2022 (juga singkat, juga berantakan, Raka selingkuh lagi—konsisten, ya, orangnya).
  • Raka nggak pernah cerita tentang kami satu sama lain. Mungkin malu. Atau mungkin dia lupa. Atau mungkin dia sengaja karena takut kami ketemu dan ngobrol.

Kami ketawa. Pahit. Tapi ketawa.

Lalu kami sadar: Kami nggak pernah bertemu sebelumnya karena Raka sengaja memisahkan lingkarannya. Teman-teman Raka yang satu nggak kenal dengan yang lain. Dia punya “kompartemen” kehidupan.

Dan aplikasi kencan—yang dirancang untuk mempertemukan orang asing—akhirnya mempertemukan dua orang yang sebenarnya hidup di kota yang sama, suka kafe yang sama, bahkan punya playlist Spotify yang mirip—tapi tidak pernah bersinggungan karena satu orang.

Gue bilang, “Ini kayak film indie yang nggak laku di bioskop.”

Dia bilang, “Atau kayak skenario dari Tuhan yang lagi iseng.”


Tiga Aplikasi Kencan yang Jadi “Mak Comblang” Tak Terduga

Gue breakdown. Ini tiga aplikasi yang mempertemukan kami—bukan untuk romansa, tapi untuk semacam closure yang nggak pernah gue duga.

1. Tinder: Yang Pertama, Paling Mainstream, Paling “Gak Sengaja”

Tinder yang memulai semuanya. Match pertama kami di sini. Biasanya Tinder itu tempatnya swipe cepat, lihat foto dulu, baru baca bio kalau match.

Gue swipe kanan karena fotanya dia lagi megang buku. Gue suka cowok yang baca. Padahal foto bukunya cuma ilusi—ternyata dia memang baca. Satu poin buat Tinder.

Tapi ironinya: Tinder dirancang buat memperluas lingkaran pergaulan. Justru malah mempertemukan gue dengan orang yang terlalu dekat secara hubungan.

Data kecil (fiktif tapi realistis): Sebuah survei dari Dating App Insider 2025 menunjukkan bahwa 23% pengguna dating apps di kota besar (Jakarta, Surabaya, Bandung) pernah match dengan orang yang memiliki koneksi 1-2 derajat dalam lingkaran sosial mereka. Angka ini naik 3x lipat di kota ukuran menengah.

Bandung? Kota ukuran menengah. Tepat sasaran.

2. Bumble: Konfirmasi Bahwa Ini Bukan Bug

Gue sebenarnya udah ragu. Setelah match di Tinder dan ngobrol, gue mikir, “Mungkin ini cuma algoritma yang aneh.”

Tapi ketika gue buka Bumble—aplikasi yang katanya punya algoritma berbeda—eh match lagi dengan orang yang sama.

Ini kayak alam semesta lagi maksa.

Di Bumble, gue harus ngetik duluan (fitur wanita duluan). Gue tulis: “Lo lagi? Kita udah match di Tinder lho.”

Dia balas: “Iya. Gue juga match sama lo di Hinge kemarin.”

Tiga aplikasi. Tiga.

Gue jadi mikir: apakah algoritma dating apps itu sebenernya nggak se-“cerdas” yang mereka klaim? Atau justru karena algoritmanya terlalu pintar, jadi ngasih rekomendasi orang yang memang secara statistik cocok—tanpa tahu sejarah rumit di belakangnya?

3. Hinge: Yang Paling “Designed to be Deleted”, Tapi Malah Bikin Kami Nggak Bisa Lupa

Hinge punya tagline “Designed to be deleted”. Maksudnya, mereka ingin lo menemukan pasangan serius lalu berhenti pakai apps.

Tapi di kasus gue, Hinge malah jadi tempat terakhir yang memastikan bahwa ini bukan kebetulan. Setelah match di Tinder dan Bumble, match ketiga di Hinge seperti “stempel” dari Tuhan: “Iya, ini serius. Mereka emang harus ketemu.”

Kami akhirnya ketemu. Bukan jadi pasangan. Tapi jadi… teman yang aneh. Yang punya trauma sama mantan yang sama. Yang bisa saling curhat tanpa takut dihakimi.

Coba lo bayangin. Lo punya teman yang persis tahu gimana rasanya digombalin Raka. Persis tahu lagu favorit Raka yang palsu. Persis tahu alasan kenapa Raka nggak pernah serius.

Itu terapi murah meriah.


Tabel: Tiga Aplikasi, Satu Ironi

AplikasiFungsi KlaimFungsi Realita di Kasus Gue
TinderUntuk ketemu orang baru di luar lingkaranMalah ketemu orang yang cuma terpisah 1 simpul (mantan dari mantan)
BumbleUntuk koneksi lebih serius dengan algoritma berbedaAlgoritma beda tapi hasilnya sama—karena faktor lokasi dan preferensi yang mirip
HingeDesigned to be deleted (cari pasangan serius)Malah jadi alat pertemuan “closure”, bukan romansa

Tiga Cerita Lain yang Lebih Absurd dari Kasus Gue

Setelah gue cerita ke teman-teman, ternyata gue nggak sendiri. Ada yang lebih gila.

Kasus 1: Si Kencan dengan Mantan Pacar Kakak

Seorang cewek di Semarang. Dia match dengan cowok di Bumble. Kencan pertama. Ngobrol seru. Terus cowoknya cerita tentang kakak perempuannya. Deskripsinya: “Kakak saya rada temperamental, suka masak, dulu kuliah di Jogja.”

Si cewek diam. Ternyata itu persis deskripsi kakaknya sendiri. Dia nggak sadar lagi kencan dengan mantan pacar kakaknya. Setelah kencan, dia telepon kakaknya: “Kak, lo pernah pacaran sama cowok namanya Andi?” Kakaknya diam. Lalu teriak: “JANGAN DIA! KONTOL ITU!”

Hubungan adik-kakak jadi renggang 3 bulan. Tapi akhirnya baikan. Si cowok? Diblokir semua aplikasi.

Kasus 2: Si Tiga Kali Match dengan Orang yang Sama di Tiga Aplikasi (Dalam 2 Tahun)

Cowok di Jakarta. Match dengan cewek di Tinder. Nggak jadi apa-apa (ghosting). Setahun kemudian match lagi di Bumble—dengan orang yang sama. Kali ini mereka ngobrol lebih serius. Tapi ternyata ceweknya pindah ke luar negeri. Batal.

6 bulan kemudian, match lagi di Hinge. Masih orang yang sama. Cowoknya bilang, “Ini udah yang ketiga kalinya. Mungkin alam semesta maksa kita ketemu.”

Mereka akhirnya kencan. Seriusan. Sekarang udah 1 tahun pacaran. Mereka bikin baju couple bertuliskan “3 Apps, 1 Love.”

Kasus 3: Si “Saling Nge-View Instagram Tanpa Follow, Lalu Match di Apps”

Ini paling kekinian. Dua orang yang sama-sama follow akun meme yang sama. Mereka sering saling lihat story tapi nggak follow-followan. Suatu hari mereka match di Tinder. Ngobrol. Terus sadar bahwa mereka udah “saling kenal” dari dunia maya selama setahun.

Mereka kencan. Sekarang tinggal bareng. Kata mereka, “Tinder cuma formalitas. Sebenernya kita udah jadian dari lama cuma nggak ngaku.”


Practical Tips: Cara Menyikapi Match “Aneh” di Aplikasi Kencan (Tanpa Panik)

Dari pengalaman absurd ini, gue belajar beberapa hal. Mungkin berguna buat lo.

1. Kalau Match dengan Orang yang “Terlalu Dekat”, Jangan Langsung Panik

Pertama-tama, tenang. Bisa jadi itu kebetulan. Bisa jadi itu algoritma. Bisa jadi itu pertanda lo harus eksis di lingkungan yang lebih luas. Jangan langsung swipe left karena takut canggung. Coba chat dulu. Siapa tahu malah dapet teman curhat kayak gue.

2. Jangan Anggap Semua Match Harus Jadi Kencan Romantis

Ini yang paling gue syukuri. Gue dan mantan mantan gue nggak memaksakan jadi pasangan. Kami jadi teman. Saling support. Bahkan dia yang sekarang kasih saran soal aplikasi mana yang paling bagus buat cari pacar beneran.

Kencan buta itu nggak harus buta soal romansa. Bisa buta soal persahabatan.

3. Gunakan “Filter Cerita Mantan” di Awal Obrolan (Tanpa Kelihatan Menyerang)

Gue sekarang punya trik: di obrolan awal, gue selalu tanya, “Dari dulu tinggal di kota mana aja?” lalu “Dulu semasa kuliah atau awal kerja, ada komunitas yang lo ikuti?”

Dari situ, lo bisa tebak apakah lo punya lingkaran sosial yang tumpang tindih. Nggak perlu tanya “lo kenal si X?” langsung. Itu terlalu kentara.

4. Kalau Terlanjur Match dengan Mantan (atau Mantan dari Mantan), Anggap Sebagai Closure

Jangan dihindari. Jangan dijadikan ajang balas dendam. Anggap sebagai kesempatan alam semesta buat lo menutup babak lama dengan lebih dewasa. Gue dulu masih sebel sama Raka. Sekarang? Udah ikhlas. Karena gue lihat sendiri bahwa dia punya pola yang sama dengan orang lain. Itu bukan salah gue.

5. Jangan Percaya Algoritma 100%

Aplikasi kencan itu cuma alat. Mereka nggak tahu sejarah lo. Mereka nggak tahu bahwa lo dan match lo punya mantan yang sama. Jadi jangan kaget kalau kadang rekomendasi mereka absurd. Dan jangan terlalu bergantung pada “kecocokan 95%” yang ditulis di profil. Pertemuan paling berkesan kadang datang dari yang paling nggak terduga.


Common Mistakes (Yang Mungkin Lo Lakukan dan Bikin Lo Kehilangan Momen Lucu)

  • Langsung swipe left karena profilnya “biasa aja”
    Padahal bisa jadi orang itu punya koneksi unik dengan lo. Jangan terlalu cepat menghakimi dari foto dan bio yang singkat.
  • Terlalu fokus pada “tabu” mantan
    “Dia mantan pacar teman gue. Berarti nggak boleh.” Padahal belum tentu. Kalau hubungan sudah selesai dan semua pihak dewasa, kenapa nggak? Lo cuma perlu komunikasi. Jangan biarkan aturan tidak tertulis merampok kesempatan lo.
  • Menganggap match di banyak aplikasi itu “bug”
    Bisa jadi itu bug. Tapi bisa juga itu sinyal. Kalau lo match dengan orang yang sama di 2-3 aplikasi berbeda, mungkin ada sesuatu yang perlu lo gali. Minimal lo jadi punya cerita absurd buat diceritakan ke teman-teman.
  • Malu mengakui bahwa lo ketemu lewat jalur “tidak biasa”
    Gue dulu malu kalau ditanya “kalian kenal dari mana?” Jawabannya: “Dari aplikasi kencan. Dan ternyata dia mantan pacar mantan saya.” Sekarang gue malah bangga. Itu cerita unik. Nggak semua orang punya.
  • Berpikir bahwa aplikasi kencan akan menyelesaikan semua masalah sosial lo
    Aplikasi kencan cuma mempertemukan. Sisanya tergantung lo. Kalau lo tinggal di kota yang kecil atau lingkaran sosial yang terbatas, aplikasi kencan nggak akan menciptakan orang baru secara ajaib. Mereka cuma menampilkan orang-orang yang memang ada di sekitar lo. Jadi siap-siap dengan kemungkinan bertemu orang yang “terlalu dekat”.

Penutup: Sekarang Gue Pacaran dengan Cowok Lain, Tapi Teman dengan Mantan Mantan

Cerita ini punya epilog.

Gue sekarang pacaran dengan cowok lain. Bukan dari aplikasi kencan (ironisnya, ketemu lewat teman kantor). Dan mantan dari mantan gue—sebut saja Andri—masih jadi teman baik. Kami sesekali ngopi. Ngobrol soal Raka yang sekarang kabarnya pindah ke Bali dan masih dengan pola lama.

Kami ketawa. Kami geleng-geleng kepala. Lalu kami balik ke hidup masing-masing.

Apakah ada yang aneh dari pertemanan ini? Mungkin. Banyak orang bilang, “Aneh banget lo berteman dengan mantan dari mantan lo.”

Tapi gue jawab, “Dia satu-satunya orang yang bisa ngerti rasa sakit yang gue alami tanpa perlu gue jelaskan panjang lebar. Itu langka.”

3 aplikasi kencan yang gue pake dulu (Tinder, Bumble, Hinge) sekarang udah gue hapus. Bukan karena gue benci. Tapi karena gue udah nggak butuh. Tapi gue berterima kasih. Karena dari situlah gue belajar bahwa algoritma sebodoh apa pun, kadang mereka bisa mempertemukan dua orang yang membutuhkan satu sama lain—meskipun bukan untuk romansa.

Dan buat lo yang masih swipe kiri-kanan di aplikasi, hati-hati. Siapa tahu lo lagi match dengan mantan dari mantan lo. Atau lebih parah: mantan dari kakak lo.

Tapi kalau itu terjadi, jangan panik. Ambil kopi. Ajak dia ketemu. Bukan buat kencan, tapi buat ngakak bareng.

Karena di dunia yang serius ini, cerita absurd kayak gini yang bikin hidup terasa lebih berwarna.

Dan percayalah, lo akan punya bahan cerita buat tahun-tahun ke depan.

Gue buktikan sendiri.